Anda mau kawin lagi?

Anda mau kawin lagi? Keinginan itu tampaknya harus disusun dengan rapi dan transparan. Ya, kalau sebelumnya banyak lelaki yang ingin memadu kasih serta menikahi banyak gadis, dengan mengaku bujang, kini modus itu tak gampang lagi dilakukan. Memang dalam berbagai kasus poligami, pihak perempuan seringkali merasa tertipu dengan status pernikahan pihak lelaki.Selain kelihaian sang lelaki ngombal jika dirinya masih single, bukti legalpun bisa dimanipulasi.

Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai identitas resmi yang mencantumkan status pernikahan bisa dengan mudah dipalsu. Kendati telah beristri dan beranak-pinak, para lelaki dengan mudah mengaku bujang untuk kemudian menikah lagi,karena status KTP mendukung hal itu. Tak heran jika banyak kaum perempuan yang tertipu dengan akal bulus para lelaki ini. Namun tahun ini, modus mengaku bujangan dengan menunjukkan KTP palsu tak mudah lagi dilakukan.Kondisi ini seiring dengan kebijakan Pemprov Jawa Timur untuk menerbitkan KTP elektronik berbasis nomor induk kependudukan (NIK). Tak hanya itu, kebijakan ini juga didukung dengan dibuatnya sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) berbasis online.

Dengan begitu, KTP nanti dibuat dengan hanya single identity (satu identitas) dan terkomputerisasi dengan jaringan nasional. Para hidung belangpun akan terendus ketika melakukan kebohongan identitas diri. Kebijakan ini meminimalkan potensi KTP ganda. Jadi orang yang tinggal, misalnya di Surabaya tidak bisa lagi punya KTP lagi di Gresik maupun Sidoarjo. Bahkan, kalau ingin mengubah statusnya, ia harus menunjukan bukti sudah bercerai atau keterangan dari keluarganya kalau masih bujang. “Jika ada orang yang punya KTP ganda dan misalnya dia mau kawin, maka data dia di komputer secara otomatis tidak akan keluar,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Hary Soegiri,kemarin.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim itu menambahkan, KTP dobel selama ini kerap dimanfaatkan untuk tindakan dan perbuatan yang tidak dibenarkan secara hukum. Misalnya, perbuatan ilegal dan tindak ke-jahatan, mulai penggelapan mobil sewaan rental, penggandaan kartu kredit, hingga kawin lagi dengan mengaku bujang (berdasar identitas palsu), padahal sebenarnya sudah beristri dan berkeluarga. “Semua ini dilakukan biar tidak banyak warga yang dirugikan. Agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, kami akan menertibkannya,” ungkapnya. Menurut Hary, tahun lalu pihaknya telah menyelesaikan pemutakhiran data untuk kepentingan pembuatan KTP elektronik.Hasilnya, 11 daerah sudah menggunakan elektronik KTP berbasis nomor induk kependudukan.

Sementara untuk SIAK online, dari 38 kabupaten/kota sebanyak 16 daerah sudah tersambung secara online. Ke-16 daerah itu antara lain, Surabaya, Sidoarjo,Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan. “Sisanya yang belum kita harapkan dapat diselesaikan pada tahun ini,”imbuhnya. Pemprov optimistahun2012nanti semua persiapan untuk menerbitkan KTP berbasis elektronik dengan single identity akan rampung 100%. Dengan begitu,pada 2013 revolusi terhadap sistem kependudukan sudah resmi diberlakukan. Selama ini,lanjutnya,kelemahan sistem administrasi kependudukan ternyata memicu banyaknya masyarakat yang memiliki KTP dobel. Ini terlihat dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Dinas Disnakertransduk Jatim.

Hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) 2010 lalu, jumlah penduduk Jatim mencapai 37,4 juta. Namun jumlah KTP yang dikelurkan untuk masyarakat di 38 kabupaten/ kota ternyata mencapai 40,228 juta. Ini berarti, terdapat 2,8 juta kepemilikan KTP dobel di masyarakat. Hary sendiri membenarkan banyaknya KTP yang beredar di masyarakat.

Banyaknya KTP dobel itu diketahui setelah pihaknya tahun 2010 lalu melakukan pemutakhiran data kependudukan di 38 kabupaten/ kota di Jatim.“Hasil itu membuat kita benar-benar kaget dan tercengang. Apalagi jumlah KTP yang dobel mencapai 8-11%. Demikian celoteh Berita Harian yang berjudul Anda mau kawin lagi?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel