Angka putus sekolah di Kabupaten Kediri

Angka putus sekolah di Kabupaten Kediri tampaknya masih sulit untuk ditekan. Tahun ini, ada sebanyak1.579 siswa SD dan MI di Kabupaten Kediri tidak melanjutkan ke SMP. Setiap tahun, angka anak SD yang tidak melanjutkan SMP semakin banyak.Dari rata-rata 24.000 anak yang mengikuti ujian nasional, ternyata pada tahun 2010 hanya 93,42% saja yang melanjutkan sekolah. Angka menurun jika dibandingkan tahun 2009 yaitu sebesar 95,72% siswa yang melanjutkan ke SMP. “Alasan putus transisi ini beragam, namun rata-rata dikarenakan faktor ekonomi.

Mereka berasal dari keluarga miskin dan diminta untuk bekerja guna membantu orang tua,”papar Kepala Bidang pendidikan TK-SD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri Sunaryo. Menurut Sunaryo, sebagian besar anak SD yang tidak melanjutkan ke SMP ini berada di wilayah-wilayah pedesaan. Pola pikir orang tua yang berada di pedesaan menilai bahwa lulus SD saja sudah cukup.

Anak yang sudah lulus SD mampu membaca,menulis dan berhitung, kemampuan yang dinilai cukup untuk membantu orang tua untuk bekerja. “Sekolah SD kan sudah bisa membaca menulis, jadi untuk sebagian orang itu sudah dianggap cukup,”paparnya. Selain kemiskinan, lanjut Sunaryo, faktor geografis juga membuat murid yang lulus SD enggan untuk melanjutkan sekolahnya.“Biasanya ini yang ada di daerah pelosok, medan sulit, transportasi sulit dan sekolah SMP jauh letaknya, sehingga mereka enggan untuk melanjutkan sekolah,” jelas Sunaryo.

Padahal,Sunaryo menilai, anak-anak yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMP itu memiliki potensi yang besar. Jika mereka bisa melanjutkan sekolah hingga SMA,itu akan mampu jadi langkah penting untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Sunaryo menyebutkan, daerah- daerah yang menjadi kantong- kantong lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP ini ada di Kecamatan Semen,Kecamatan Mojo dan Kecamatan Tarokan.

Sementara itu,Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Kediri, Abdul Hasyim, berjanji akan mengupayakan penambahan anggaran beasiswa dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) nanti.“Nominalnya tidak perlu banyak-banyak, hanya Rp1 juta per anak, untuk biaya masuk sekolah,”ungkapnya. Hasyim menilai, selama ini para orang tua miskin selalu keberatan dengan pembayaran di awal.

Karena itu, untuk biaya masuk sekolah tidak dijaminkan dalam BOS maupun beasiswa. “Itu sebabnya kita akan bantu ribuan anak tersebut. Jumlah Rp1,5 miliar itu sangat kecil untuk pemerintahan kita sebenarnya,”paparnya. Hasyim menyatakan bahwa saat ini, dalam APBD sebenarnya telah dianggarkan beasiswa.

Namun dalam pelaksanaannya, masih terjadi pelobian oleh pihak sekolah sehingga kurang merata.“Kalau tataran konsepnya sudah bagus, beasiswa prestasi anggarannya memang hanya Rp300 juta untuk SD-SMP, namun yang jadi masalah adalah praktik di tataran bawah itu,”ungkapnya. Demikian catatan online Berita Harian yang berjudul Angka putus sekolah di Kabupaten Kediri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel