Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kota Batu

Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kota Batu bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batu membina 50 orang anak jalanan (anjal) di Mahad Alulya, kompleks asrama siswa-siswi MAN Malang 3 di Kelurahan Temas. Kepala Mahad Alulya M Musryfin menerangkan, sebanyak 50 anjal sedang dibina itu berasal dari keluarga miskin (gakin) yang tinggal di Dusun Glonggong, Kelurahan Temas dan pemukiman padat penduduk di belakang Pasar Batu. “Menurut rencana mereka akan belajar di mahad ini selama 10 bulan.Untuk biaya hidup selama tinggal di asrama akan mendapatkan bantuan dari program pendidikan terpadu anak harapan Kemenag RI,” ujarnya.

Dari 50 anjal yang dibina Musryfin, 32 orang laki-laki dan 18 orang lagi perempuan. “Setiap bulannya kita menerima kucuran dana Rp25 juta. Untuk biaya hidup anak-anak, serta operasional di dalam mahad termasuk untuk honorarium pengasuhnya,” jelas Musryfin. Selama tinggal di asrama, setiap anak akan mendapatkan pendidikan ilmu agama Islam. Mulai belajar tulis dan membaca serta menghafal Al Quran, belajar ilmu Fiqih,Aqidah Akhlak.

Termasuk menerima pendidikan ketrampilan seperti latihan mengoperasikan komputer termasuk diwajibkan mengikuti kegiatan ekstra olah raga, seni dan budaya serta bela diri. Kata Musryfin,dari 50 orang anak asuhnya itu, tiga orang berprofesi sebagai pengamen jalanan. Sisanya masih bersekolah di SDN Temas 1 dan SDN Temas 4, juga ada yang di SMP PGRI dan SMP Islam Kota Batu. “Waktu awal-awal datang meraka masih sering berkelahi. Karena belum saling kenal.

Kemudian dalam sebulan ini sudah banyak perubahan.Akhlak mereka lebih tertata. Mereka rajin beribadah.Mengerti perasaan kasihan dan saling menghormati sesama temannya. Karena setiap hari mereka makan,tidur dan belajar mengaji bersama.Akhirnya mereka menjadi rukun,”ungkapnya. Bambang Hermanto, salah satu siswa yang mondok di Mahad Alulya mengaku senang bisa mengenyam pendidikan agama bersama temantemannya. Katanya ayahnya tinggal di Surabaya.

Dia tinggal bersama ibunya yang indekos di belakang Pasar Batu.“Bapak bekerja sebagai pedagang kelapa di Surabaya. Sedangkan ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga.Saya setiap hari ngamen di Pasar Batu, berangkatnya pagi. Dalam sehari kadang mendapatkan uang Rp10.000-20.000,” ucap Bambang. Bambang bercita-cita ingin menjadi pembalap sepeda. “Saya pernah bersekolah SMP sampai kelas 2 saja.

Karena orang tua tidak memiliki uang akhirnya saya berhenti. Alhamdulillah saya bisa belajar mengaji lagi sekarang ini,” cetus Bambang. Bayu Adi teman Bambang juga mengaku senang bisa tinggal di asrama. Karena selama ini dia jarang ke masjid apalagi belajar mengaji.“Di tempat ini saya bisa belajar bermain musik dan belajar mengaji. Kelak saya bercita-cita ingin menjadi guru,” tuturnya dengan polos. Demikian catatan online Berita Harian yang berjudul Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kota Batu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel