RSU dr Soetomo Surabaya

Kondisi rumah sakit terbesar se-Indonesia timur, RSU dr Soetomo Surabaya, kian kumuh.Asap rokok dan tubuh keleleran menjadi pemandangan yang biasa di hampir setiap sudut rumah sakit. Padahal, Pemprov Jatim sebagai pemilik bercita-cita menjadikannya world class hospital (rumah sakit kelas dunia). Bersaing dengan rumah sakitrumah sakit diluar negeri seperi Singapura dan Australia. Berdasarkan pantauan lapangan Seputar Indonesia Selasa (3/5) kemarin, salah satu pemandangan yang mencolok ada di Irna Bedah Ruang Flamboyan. Di lokasi tersebut terdapat puluhan keluarga pasien yang sebagian besar menggelar tikar sebagai tempat duduk atau rebahan.

Di lokasi tersebut sebenarnya ada ruang terbuka untuk keluarga pasien. Namun karena jumlahnya banyak, di antara keluarga pasien tersebut banyak juga yang berada di lorong. Akibatnya pejalan kaki baik keluarga pasien maupun dokter dan perawat sendiri terganggu dan harus berjalan lebih menepi. Pasalnya, sebagian jalan termakan oleh para keluarga pasien yang keleleran.

Tidak hanya itu, asap rokok juga menjadi pemandangan biasa. Hampir di setiap ruangan RSU dr Soetomo mudah menemukan para perokok yang mengepulkan asapnya. Padahal, merokok seharusnya dilarang diseluruh lingkungan rumah sakit. Salah seorang keluarga pasien, Basri, mengatakan selama merokok di luar ruang perawatan, petugas rumah sakit tidak akan menegur.

Seperti di taman, atau tempat yang agak jauh dari ruang perawatan. “Kalau di dalam (ruang perawatan) baru tidak boleh,”ujarnya yang tengah merokok bersama dua orang keluarga pasien lain di lorong Irna Bedah ruang Flamboyan kemarin. Pria asal Kediri yang mengantar ibunya menjalani kemoterapi ini belum pernah terkena tegur petugas rumah sakit. Padahal dirinya seringkali merokok di lingkungan rumah sakit.“

Kalau di dalam (ruang perawatan) tidak pernah. Kalau merokok pasti keluar dulu,” kata dia sambil menyebutkan ibunya menderita kanker ini. Direktur RSU dr Soetomo Surabaya dr Dodo Anondo MPH mengatakan kondisi tersebut disebabkan oleh banyaknya pasien yang dirawat. Akibatnya keluarga pasien yang menunggui dan membesukpun menjadi banyak.

“Sebenarnya bukan keleleran, tapi pasiennya memang banyak,” ujarnya. Mantan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur ini mengatakan, padatnya jumlah pasien itu merupakan resiko RSU dr Soetomo sebagai rumah sakit milik rakyat. Di mana sebanyak 55% tempat tidur yang ada diisi oleh masyarakat kurang mampu. Di sisi lain, pihaknya sudah berupaya menertibkan prilaku keluarga pasien tersebut.

Misalnya saja, pasien yang dirawat tidak perlu ditunggui atau dijenguk oleh banyak orang yakni cukup satu atau dua orang saja. Namun faktanya, bisa sampai lebih dari 5 orang. Selain itu,petugas keamanan dan customer service setiap pagi selalu meminta keluarga pasien untuk melipat tikar yang digunakan tidur malam. Pasalnya, karena banyaknya orang, seringkali mereka tidur sembarangan dan menghalangi jalan.

“Rumah sakit merupakan kawasan tanpa rokok. Jadi kalau ada yang merokok tentu kita ingatkan.Tetapi memang kesadaran masyarakat kita masih perlu untuk ditingkatkan,” bebernya. Sementara itu, Ketua Komisi E (Kesra) DPRD Jawa Timur Ahmad Iskandar mengatakan pihaknya sudah menyiapkan solusi mengatasi kekumuhan RSU dr Soetomo.Yakni dengan membangun hotel-hotel mini khusus untuk keluarga pasien. “Kalau tidak ada halangan, tahun depan sudah direalisasikan,” terangnya.

Menurut politisi Partai Demokrat ini, sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia memberikan empati tinggi kepada orang yang sakit. Tak heran, meski hanya satu orang yang sakit, namun pembesuk ataupun yang menungguinya bisa sampai 10 orang.“Bayangkan saja daya tampungnya RSu dr Soetomo sebanyak 3 sampai 4 ribu orang. Tapi sekarang sudah overload menjadi sekitar 6 ribu pasien,”pungkasnya. Demikian Berita Harian yang berjudul RSU dr Soetomo Surabaya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel