Memburu jaringan teroris

Markas Besar Polri hingga kini masih memburu jaringan teroris pelaku pengeboman Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton,Solo,yang diduga terkait kelompok Cirebon. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengungkapkan, saat mengungkap jaringan bom Cirebon polisi menyimpulkan ada tujuh bom rakitan yang belum ditemukan.

Polisi hingga kini masih mencari keberadaan bom-bom rakitan tersebut. “Kami belum dapatkan dan akhirnya ada satu yang meledak kemarin,” kata Anton di Mabes Polri, Jakarta, kemarin. Kepolisian sudah mengantongi nama-nama kelompok Cirebon ini. Saat ini dan selanjutnya aparat terus melakukan pengejaran.“Yang jelas kami sudah mengantongi nama-nama mereka,” ungkap mantan Kapolda Jawa Timur ini.

Seperti diketahui, polisi sedang memburu lima buronan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Kelima DPO ini diduga ikut terlibat dalam insiden bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon yang melukai 29 orang. Kelimanya adalah Achmad Yosepa alias Hayat yang berperan sebagai perencana sekaligus perakit bom bunuh diri di Masjid Adz Dzikra.

Dia juga diketahui sebagai pelaku bom bunuh diri di GBIS Kepunton,Solo. Selain itu,ada nama Yadi Al Hasan, Amir Ashabul Kahfi Cirebon. Yadi terlibat sebagai orang yang menyembunyikan pelaku bom Klaten dan memberi perintah untuk memberikan pelatihan kepada perakit bom bunuh diri.

Kemudian Heru Komarudin, yang merupakan perakit bom yang diledakkan Syarif di Masjid Adz Dzikra,Mapolresta Cirebon. Selain itu ada dua nama lain, yakni Beni Asri dan Nanang Irawan alias Nang Ndut alias Gendut alias Rian yang berperan menyembunyikan rangkaian bom.

“Semuanya masih kami cari,”ujarnya. Mengenai kepastian identitas pelaku bom di GBIS Kepunton, Anton menyebut pelaku bernama Achmad Yosepa Hayat alias Hayat alias Raharjo alias Achmad Abu Daud bin Daud, 31,warga Cirebon, Jawa Barat. Kepastian itu didapatkan setelah tim dokter forensik Rumah Sakit Polri Kramatjati melakukan tes DNA selama 20 jam dengan pembanding putri Hayat,Umaira Usna,4.

Selain itu, Polri juga sudah melakukan identifikasi sidik jari dengan pembanding data SIM atas nama Hayat di Polresta Cirebon dan ijazah sekolah Hayat. Anton mengungkapkan, nama kecil Hayat menurut akta kelahirannya adalah Fino Damayanto. Sempat berganti nama menjadi Ahmad Urip dan tercatat sebagai anggota Jamaah Ansharud Tauhid (JAT).

Saat bergabung dengan JAT, diubah namanya menjadi Achmad Hayat. Anton memaparkan, Hayat lahir dan besar di Cirebon sejak 19 Oktober 1980. Dia juga tergabung dengan JAT Cirebon bersama pelaku bom di Masjid Adz Dzikra Mapolresta Cirebon, M Syarif.

Mereka berdua terlibat dalam perusakan dua minimarket Alfamart di Kota Cirebon pada Oktober 2010. Menurut data, Hayatlah yang mengantarkan Syarif saat akan meledak kan bom di Masjid Adz Dzikra Mapolresta Cirebon.“Kedua orang tuanya, Dawud Urandi dan Hindun, sudah mengaku bahwa jenazah pelaku adalah anaknya,” sebut Anton.

Dari olah tempat kejadian perkara (TKP) polisi menemukan barang bukti berupa dua lembar bukti pembayaran transaksi internet di Solonet. Di warnet itu Hayat sempat menitipkan sebuah tas punggung warna hijau lumut merek Eiger yang berisi sarung motif kotakkotak kombinasi merah kuning hijau, koran Warta Jateng, Al Quran, dan dompet sebagai pembungkus warna merah hati. Kemudian sisir, kantong kecil parasit, charger ponsel,botol kecil minyak wangi, gunting kecil, pemotong kuku, plastik, cermin kecil, masker, balsam, bolpoin warna hitam, dan peci warna hitam.

Dari GBIS Kepunton polisi menemukan kacamata warna bening, pipa besi yang diduga tempat rakitan bom, baterai 9 volt merek Alkalin, serpihan sakelar warna hitam.“Bom itu diledakkan tersangka sendiri. Di lokasi juga ditemukan mur kecil dan paku. Ada juga lakban dan potongan kabel abuabu. Itu semua barang bukti yang kami usut,”papar Anton.

Dari catatan kepolisian, Hayat adalah ahli merakit bom. Mengenai motivasi Hayat menghancurkan gereja,Anton menyebut dugaan sementara motivasi Hayat berjihad. “Memang dia ingin mati dalam keadaan syahid. Jadi, doktrin yang masuk dalam dirinya adalah doktrin yang salah,” ungkapnya.

Selama ini Hayat tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan. Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes) Brigjen Pol Mussadeq Ishaq menyatakan sudah mengumpulkan bukti antemortemmaupun postmortem pada jasad pelaku bom di GBIS Kepunton, Solo. Dari situ ditemukan fakta pelakunya adalah laki-laki berumur 25–35 tahun dengan kulit sawo matang.

Pada jasad pelaku juga ditemukan tanda bekas operasi hernia dan penebalan kulit kaki bagian luar. “Setelah dibandingkan dengan keterangan keluarga, hasilnya cocok,” ungkap Mussadeq. Selain itu, dari foto jenazah dan foto semasa hidup didapat pula kecocokan dengan AchmadYosepa.

Dari pemeriksaan sidik jari dan gigi juga sudah diakui pihak keluarga bahwa jasad itu adalah Achmad Yosepa alias Hayat. Polisi juga sudah mengambil sampel DNA istri Hayat, Syifria Yosepa Dewi, dan putrinya Umaira Usna.

“Setelah dilakukan pemeriksaan, setelah dibandingkan dengan jenazah, maka seluruh kesimpulan yang kami uraikan tadi adalah tidak terbantahkan bahwa jenazah bernama Fino Damayanto alias Achmad Yosepa alias Hayat,” ungkap Mussaddeq.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel